Dosen Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan IKTA Teliti Efektivitas Edukasi BHD bagi Siswa SMP
BMBerita.com, Pekanbaru – Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah (IKTA) Pekanbaru melaksanakan penelitian tentang efektivitas edukasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa sekolah menengah pertama (SMP) dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan medis.
Penelitian tersebut dilaksanakan di SMPN 48 Pekanbaru pada Selasa, 26 Mei 2026, sebagai bentuk kontribusi akademisi dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya terkait penanganan henti jantung di luar rumah sakit atau Out-of-Hospital Cardiac Arrest (OHCA).
Kejadian OHCA merupakan kondisi kegawatdaruratan medis dengan tingkat mortalitas yang tinggi di dunia. Data global menunjukkan angka kelangsungan hidup pasien OHCA hanya berkisar 12 persen. Kondisi ini sebagian besar disebabkan keterlambatan pemberian Bantuan Hidup Dasar oleh masyarakat awam yang berada di lokasi kejadian.
Di Provinsi Riau sendiri, prevalensi penyakit jantung tercatat mencapai 1,1 persen. Namun, literasi masyarakat mengenai tindakan penyelamatan darurat masih tergolong rendah. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar sangat efektif meningkatkan kesiapan masyarakat dalam merespons kondisi kegawatdaruratan.

Pemberian BHD oleh masyarakat kepada korban henti jantung diketahui mampu meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien hingga dua sampai tiga kali lipat. Komunitas yang mendapatkan pelatihan BLS juga memiliki tingkat bystander CPR lebih tinggi yang berkorelasi langsung terhadap peningkatan survival rate pasien OHCA.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim dosen Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan IKTA Pekanbaru melakukan penelitian berjudul “Efektivitas Edukasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)”.
Tim peneliti dipimpin oleh Ns. Tengku Isni Yuli Lestari Putri, S.Kep., M.Kep, dengan anggota Ns. Rohmi Fadli, S.Kep., M.Kes dan dr. Muhammad Dwi Satriyanto, Sp.An-TI, Subsp. N.An(K), FIP. Penelitian ini juga melibatkan dua mahasiswa, yakni Caroline Wijaya dan Adnesya Prila Arneti.
Ketua peneliti, Ns. Tengku Isni Yuli Lestari Putri, S.Kep., M.Kep menjelaskan bahwa siswa SMP merupakan kelompok potensial untuk dilatih sebagai penolong pertama dalam situasi darurat.
“Siswa memiliki kemampuan kognitif dan motorik yang cukup matang untuk menyerap teknik penyelamatan nyawa. Berdasarkan rekomendasi American Heart Association dan WHO, pelatihan Bantuan Hidup Dasar sebaiknya diberikan kepada remaja usia 12 tahun ke atas karena kondisi fisik mereka dinilai sudah mampu melakukan kompresi dada berkualitas,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan BHD pada siswa sekolah terbukti efektif meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi kegawatdaruratan kardiovaskular. Selain itu, siswa juga dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga maupun komunitas.
“Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas edukasi Bantuan Hidup Dasar dalam meningkatkan tiga domain perilaku siswa, yakni pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor),” jelasnya.

Sementara itu, Ns. Rohmi Fadli, S.Kep., M.Kes menerangkan bahwa penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan quasy experiment yang melibatkan satu kelompok subjek.
“Sampel penelitian terdiri dari 50 siswa SMPN 48 Pekanbaru yang dipilih secara spesifik. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan lembar observasi keterampilan. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon untuk mengukur efektivitas edukasi sebelum dan sesudah intervensi,” jelas Rohmi.
Ia menambahkan, tahapan penelitian dimulai dari studi literatur, penyusunan instrumen penelitian, hingga pelaksanaan edukasi melalui metode ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung menggunakan manekin BHD yang mengacu pada panduan American Heart Association (AHA) 2020.
Di sisi lain, dr. Muhammad Dwi Satriyanto, Sp.An-TI, Subsp. N.An(K), FIP menegaskan bahwa penelitian ini memiliki urgensi besar dalam menciptakan “agen penyelamat” di lingkungan sekolah.
“Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi Bantuan Hidup Dasar terhadap peningkatan pengetahuan, kesiapan mental, dan keterampilan siswa dalam melakukan kompresi dada berkualitas. Urgensinya adalah menciptakan agen penyelamat di lingkungan sekolah yang mampu memanfaatkan golden period korban henti jantung sehingga dapat mencegah kematian biologis dan meningkatkan kualitas hidup penyintas,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penelitian ini diharapkan menjadi landasan pengembangan model manajemen Cardiac Life Support berbasis sekolah di masa mendatang.
“Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan aplikasi serta media edukasi komunitas pada tahun-tahun berikutnya,” tutup dr. Muhammad Dwi.









Komentar Via Facebook :