BMBerita.com

Dosen Prodi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatanm IKTA Gelar PKM Edukasi Bantuan Hidup Dasar Sejak Dini Pada Siswa SD

Dosen Prodi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatanm IKTA Gelar PKM Edukasi Bantuan Hidup Dasar Sejak Dini Pada Siswa SD

Dosen dan mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan IKTA bersama siswa kelas VI saat melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Edukasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) Sejak Dini” di MI Al-Ikhwan, Kelurahan Pebatuan, Kecamatan Kulim, Pekanbaru, pada Sabtu (23/5/2026)


BMBerita.com, Pekanbaru – Dosen Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertema Edukasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) Sejak Dini pada Siswa Kelas VI Sekolah Dasar MI Al-Ikhwan melalui Media Video Animasi. Kegiatan tersebut berlangsung di MI Al-Ikhwan, Kelurahan Pebatuan, Kecamatan Kulim, Pekanbaru, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan PKM ini dipimpin oleh Ns. Tengku Isni Yuli Lestari Putri, M.Kep., ASI, dengan anggota tim Ns. Rohmi Fadhli, S.Kep., M.Kes., dan dr. Muhammad Dwi Satriyanto, Sp.An-TI., Subps.N.An(K)., FIP., M.Kes. Tim juga dibantu oleh tiga mahasiswa, Caroline Wijaya, Amrizal Siregar dan Adnesya Prila Arneti.

Ketua tim PKM, Ns. Tengku Isni Yuli Lestari Putri, menjelaskan bahwa pendidikan kesehatan terkait Bantuan Hidup Dasar (BHD) sangat penting diberikan kepada masyarakat sejak dini. Menurutnya, penanganan kegawatdaruratan di lingkungan masyarakat sering terkendala karena rendahnya literasi masyarakat mengenai BHD, khususnya bagi saksi pertama atau first responder di lokasi kejadian.

“Kasus kegawatdaruratan di masyarakat dapat terjadi akibat kecelakaan lalu lintas, serangan jantung, maupun kejadian mendadak lainnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, henti jantung merupakan kondisi berhentinya sirkulasi darah secara mendadak yang ditandai dengan hilangnya tekanan darah arteri, tidak adanya denyut nadi, fibrilasi ventrikel, hingga takikardia. Oleh karena itu, tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) wajib dilakukan pada kasus henti jantung.

“Pelatihan Bantuan Hidup Dasar merupakan bentuk edukasi dan simulasi yang mengajarkan upaya pengembalian fungsi vital tubuh melalui kompresi dada dan bantuan napas pada korban henti jantung,” katanya.

Tengku Isni menambahkan, pemahaman mengenai BHD sebaiknya diberikan sejak usia dini karena anak-anak usia sekolah dasar memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam menyebarkan informasi kesehatan di lingkungan keluarga maupun sekolah.

“Salah satu sasaran kegiatan ini adalah siswa MI Al-Ikhwan,” ucapnya.

Ia juga menyoroti masih minimnya edukasi kesehatan yang terstruktur, sehingga pengetahuan siswa mengenai langkah-langkah penyelamatan nyawa masih terbatas.

Melalui edukasi BHD berbasis video animasi, pihaknya berharap siswa mampu memahami langkah pertolongan pertama secara efektif sebelum bantuan medis profesional tiba.

“Selain meningkatkan pemahaman siswa, pendidikan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kesehatan di lingkungan sekolah serta memperkuat peran siswa sebagai agen perubahan dalam menyebarkan informasi pencegahan kecelakaan di lingkungan keluarga,” tambahnya.

Sementara itu, Ns. Rohmi Fadhli menjelaskan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan menjembatani kesenjangan pengetahuan siswa melalui metode edukasi yang adaptif dan interaktif berbasis teknologi visual.

“Pendidikan BHD melalui video animasi tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial dan solidaritas dalam menjaga kesehatan komunitas sejak usia dini,” jelasnya.

Menurutnya, Bantuan Hidup Dasar merupakan tindakan pertolongan pertama yang sangat penting dalam menangani kasus kegawatdaruratan untuk menjaga kelangsungan hidup korban hingga bantuan medis profesional datang.

“Solusi inovatif yang ditawarkan dalam program ini adalah implementasi edukasi BHD melalui media video animasi yang dirancang sesuai karakteristik kognitif anak usia sekolah dasar,” katanya.

Lebih lanjut, dr. Muhammad Dwi Satriyanto menerangkan bahwa BHD melibatkan serangkaian langkah mulai dari memastikan keamanan lingkungan, mengevaluasi kesadaran dan pernapasan korban, hingga melakukan tindakan resusitasi jantung paru apabila korban tidak sadar atau tidak bernapas.

“Selain itu, penanganan jalan napas dan penghentian perdarahan pada luka terbuka juga menjadi bagian penting dari BHD untuk mencegah kondisi korban semakin memburuk,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam situasi kegawatdaruratan seperti serangan jantung maupun tersedak, langkah-langkah tersebut dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi dampak yang lebih serius sebelum pertolongan medis lanjutan diberikan.

“Keterampilan BHD sangat penting diajarkan melalui media yang menarik agar protokol penyelamatan ini mudah dipahami dan diingat oleh anak usia sekolah,” tutup dr. Muhammad Dwi Satriyanto.

Komentar Via Facebook :