Prodi Keperawatan Insitut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Gelar Penyuluhan Kesehatan di Kelurahan Pebatuan
BMBerita.com, Pekanbaru - Bantuan Hidup Dasar (BHD) dalam menangani kasus kegawatdaruratan merupakan tindakan pertolongan pertama yang penting untuk menjaga kelangsungan hidup korban hingga bantuan medis profesional tiba.
BHD melibatkan serangkaian langkah, mulai dari memastikan keamanan lingkungan dan mengevaluasi kondisi korban, seperti kesadaran dan pernapasan.
Jika korban tidak bernapas atau tidak sadar, tindakan resusitasi jantung paru (RJP) dengan memberikan kompresi dada dan napas buatan menjadi prioritas utama untuk mempertahankan sirkulasi darah dan oksigenasi tubuh. Selain itu, penanganan jalan napas dan penghentian pendarahan pada luka terbuka juga merupakan bagian dari BHD yang krusial untuk mencegah kondisi korban semakin memburuk.
Dalam situasi kegawatdaruratan seperti serangan jantung atau kejang, langkah-langkah tersebut dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul sebelum pertolongan medis lebih lanjut datang. Keterampilan BHD sangat vital, terutama di daerah pedesaan, di mana akses ke fasilitas medis seringkali terbatas.

Kejadian kegawatdaruratan di pedesaan seringkali disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, serangan jantung, bencana alam, atau penyakit mendadak seperti stroke. Di wilayah pedesaan, faktor-faktor seperti keterbatasan akses ke fasilitas medis, jarak yang jauh ke rumah sakit, serta kurangnya tenaga medis terlatih memperburuk situasi. Dalam banyak kasus, respons awal yang terlambat atau kurang tepat dapat berakibat fatal.
Beranjak dari itu, Fakultas Keperawatan Institut Kesehatan dan Teknologi AL Insyirah melaksanakan penyuluhan Kesehatan Tentang Bantuan Hidup Dasar.
Ketua tim penyuluhan Ns. Tengku Isni Yuli Lestari Putri, M.Kep mengatakan, Pendidikan kesehatan terkait Bantuan Hidup Dasar (BHD) sangat penting bagi pemuda di Desa Pebatuan, mengingat peran mereka yang krusial dalam situasi darurat. Dengan pelatihan BHD, pemuda dapat mengatasi kecelakaan atau kondisi medis mendesak dengan memberikan pertolongan pertama yang efektif, yang dapat menyelamatkan nyawa sebelum bantuan medis profesional tiba.
”Selain itu, pendidikan ini juga meningkatkan kesadaran kesehatan di masyarakat dan memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan yang dapat menyebarkan informasi dan langkah pencegahan kecelakaan”ujarnya Sabtu (21/6/25)
Dalam konteks desa yang mungkin jauh dari fasilitas medis, keterampilan BHD menjadi sangat vital, memungkinkan pemuda untuk memberikan respons cepat dan tepat terhadap kedaruratan medis.
”Secara keseluruhan, pendidikan BHD tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial dan solidaritas dalam menjaga kesehatan komunitas.” kata Tengku Isni

Ns. Rohmi Fadhli, M.Kes tim penyuluh menjelaskan, Berdasarkan analisis situasi di Kelurahan Pebatuan, Pemuda di desa mungkin belum sepenuhnya memahami konsep atau pentingnya Bantuan Hidup Dasar (BHD), terutama jika mereka tidak terbiasa dengan topik-topik seperti pertolongan pertama, penanganan gawat darurat, atau praktik kesehatan dasar yang dapat menyelamatkan nyawa.
”Keterbatasan dalam hal fasilitas atau peralatan yang diperlukan untuk memberikan pelatihan atau bantuan hidup dasar. Misalnya, mereka mungkin kekurangan peralatan medis sederhana (seperti kotak P3K) atau ruang yang memadai untuk melaksanakan pelatihan. Selain itu, sumber daya manusia yang terlatih dalam bidang ini juga bisa terbatas” tutup Rohmi Fadli.









Komentar Via Facebook :