Dosen Ilmu Keperawatan IKTA Lakukan Penelitan dan Pelatihan Pertolongan Pertama Henti Jantung
BMBerita.com, Pekanbaru – Dengan mengambil tema Pengaruh Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan Keterampilan Pada Masyarakat, Dosen Keperawatan Institut Kesehatan dan Teknologi Il Insyirah melakukan penelitian di RW 12 Kelurahan Pebatuan Kota Pekanbaru, Rabu (3/7/24)
”Penelitian kuantitatif dengan rancangan quasy-experiment melibatkan pelatihan edukasi tentang BHD kepada satu kelompok subjek. Sampelnya terdiri dari 50 responden dari masyarakat RW 12 yang dipilih secara spesifik.” kata Ketua penelitian Ns. Tengku Isni Yuli Lestari Putri, S.Kep.,M.Kep
Tengku Isni Menjelaskan, Penelitian ini dilakukan dengan cara data dikumpulkan melalui kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan dua tahap, analisis univariat dan analisis bivariat, yang bertujuan untuk mengukur pengetahuan dan ketrampilan dalam BHD dengan menggunakan uji Wilcoxon.
Bantuan Hidup Dasar (BHD) menjadi langkah pertama dalam menyelamatkan individu yang mengalami henti jantung, mencakup identifikasi kondisi, aktivasi sistem darurat, resusitasi dini, dan penggunaan defibrilator otomatis.
Studi menunjukkan bahwa pelatihan BHD meningkatkan pengetahuan masyarakat, menjadi landasan dalam memberikan pertolongan pertama dalam kasus henti jantung.
“Sayangnya, pengetahuan dan ketrampilan masyarakat sebelum mendapatkan edukasi mengenai penanganan kondisi darurat seperti Cardiac Arrest di luar rumah sakit masih terbilang kurang, yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup yang rendah, hanya sekitar 12%.” Ungkap Tengku Isni menjelaskan latar belakang penelitiannya
Bd. Fatma Nadia, SST, M.Kes anggota penelitian menerangkan, Data menunjukkan bahwa jutaan orang meninggal dunia karena masalah jantung dan pembuluh darah, dengan angka kematian akibat henti jantung di luar rumah sakit yang mencapai 2 juta di Amerika dan 60.000 di beberapa negara Asia-Pasifik, termasuk Indonesia.
Penyelesaian yang efektif termasuk memberikan pelatihan tentang bantuan hidup dasar kepada masyarakat.
”Hal ini penting karena pelatihan ini dapat menjadi penentu keselamatan korban, khususnya dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.” Kata Fatma
Lebih jauh fatma nenerangkan, Kejadian gawat darurat dapat terjadi secara tiba-tiba, dan sulit diprediksi kapan akan terjadi bahkan dalam lingkungan desa sekalipun.
Pasalnya, masyarakat awam seringkali menjadi orang pertama yang menghadapi situasi darurat, termasuk kasus-kasus seperti henti jantung di luar lingkungan rumah sakit.

Masyarakat yang tidak terlatih, saat menemui situasi darurat di luar rumah sakit, memiliki potensi untuk menjadi bagian penting dalam chain of survival dengan respons cepat dan tepat. Oleh karena itu, lingkungan sekitar, terutama masyarakat awam, lebih rentan menemui keadaan darurat, yang menyoroti pentingnya kemampuan melakukan tindakan penyelamatan dengan bantuan hidup dasar secara efisien.
”Namun, pada kenyataannya, pengetahuan dan keterampilan masyarakat sebelum mendapat edukasi tentang penanganan Out Of Hospital Cardiac Arrest (OHCA) masih terbilang kurang”. kata Fatma mengutip dari beberapa ferensi
Ns. Rohmi Fadli, S.Kep.,M.Kes yang juga anggota peneliti mengatakan, Salah satu solusi efektif untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang bantuan hidup dasar (BHD).
Memberikan pelatihan ini menjadi krusial karena bisa menjadi penentu keselamatan korban, dengan fokus pada meningkatkan kualitas hidup mereka. Masyarakat memiliki peluang yang besar untuk memberikan bantuan hidup dasar, baik dalam kasus henti jantung di lingkungan tempat tinggal maupun di tempat kerja mereka.
Untuk itu, mereka perlu dilengkapi dengan pengetahuan serta keterampilan dalam melakukan BHD dengan respons yang cepat dan tepat. Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan dasar penting yang dilakukan untuk menyelamatkan individu yang mengalami henti jantung. B
BHD mencakup langkah-langkah seperti mengidentifikasi henti jantung, mengaktifkan Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) secara dini, dan menggunakan automated external defibrillator (AED).
BHD bisa dijelaskan sebagai upaya untuk menjaga hidup seseorang yang berada dalam ancaman kehilangan nyawa. Maka dari itu, kami dari Program Sudi Ilmu Keperawatan memandang penting melakukan penelitian ini sekaligus memberi pelatihan kepada masyarakat” tutup Rohmi Fadli.
Penelitian BGD dilaksanakan di RW 12 Kelurahan Pebatuan Kota Pekanbaru, diikuti oleh 50 responden. Penelitian dilakukan oleh tiga orang dosen, Ns. Tengku Isni Yuli Lestari Putri, S.Kep.,M.Kep selaku ketua peneliti, Bd. Fatma Nadia, SST, M.Kes dan Ns. Rohmi Fadli, S.Kep.,M.Kes selaku anggota peneliti. Juga dibantu oleh 3 orang mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan IKTA, yakni Elfira, Alfin, Nur Hasna Gustika









Komentar Via Facebook :