Pengambdian Masyarakat
Dosen Keperawatan IKTA Taja Penyuluhan Peningkatan Kemampuan Ansiety Manajemen Pada Pasien Skizofrenia Dalam Peningkatan Pelayanan Asuhan Keperawatan
Tim penyuluh dari Prodi Profesi dan s1 Keperawatan IKTA berfoto bersama peserta usai menggelar Penyuluhan Peningkatan Kemampuan Ansiety Manajemen Pada Pasien Skizofrenia Dalam Peningkatan Pelayanan Asuhan Keperawatan di RSJ Tampan Senin (25/3/24)
BMBerita.com, Pekanbaru - Saat ini ada kecenderungan penderita dengan gangguan jiwa jumlahnya mengalami peningkatan. Data hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilakukan Badan Litbang Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2010 menunjukkan, diperkirakan terdapat 264 dari 1000 anggota Rumah Tangga menderita gangguan kesehatan jiwa.
Dalam kurun waktu enam tahun terakhir ini, data tersebut dapat dipastikan meningkat karena krisis ekonomi dan gejolak- gejolak lainnya diseluruh daerah. Bahkan masalah dunia internasionalpun akan ikut memicu terjadinya peningkatan tersebut.
Studi Bank Dunia (World Bank) pada tahun 1995 di beberapa negara menunjukkan bahwa hari- hari produktif yang hilang atau Dissabiliiy Adjusted Life Years (DALY's) sebesar 8,1% dari Global Burden of Disease, disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa. Angka ini lebih tinggi dari pada dampak yang disebabkan penyakit Tuberculosis (7,2%), Kanker (5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) maupun Malaria (2,6%).
Tingginya masalah tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang besar dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya yang ada dimasyarakat.
Kesehatan Jiwa masyarakat (community mental health) telah menjadi bagian masalah kesehatan masyarakat (public health) yang dihadapi semua negara.

Peserta antusias mendengar paparan materi dari tim penyuluh
Salah satu pemicu terjadinya berbagai masalah dalam kesehatan jiwa adalah dampak modernisasi dimana tidak semua orang siap untuk menghadapi cepatnya perubahan dan kemajuan teknologi baru.
Gangguan jiwa tidak menyebabkan kematian secara langsung namun akan menyebabkan penderitanya menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga penderita dan lingkungan masyarakat sekitarnya.
“Dari data tersebut diatas, kami tertarik untuk melakukan pengabdian dengan masalah kesehatan jiwa masyarakat” ungkap Ketua Tim Penyuluh dari Program Sudi Ilmu Keperawatan Institut Kesehatan dan Teknologi AL Insyirah Ns. Ahmad Redho, M.Kep, Sp. Kep.M.B
Ahmad Redho menerangkan, Skizofrenia adalah penyakit serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, gangguan dalam memproses informasi, dan berhubungan interpersonal. Skizofrenia merupakan sindroma kompleks yang menimbulkan gangguan persepsi, pikiran, pembicaraan dan gerakan seseorang. Skizofrenia juga merupakan gangguan psikotik kronis dan memiliki manifestasi klinis yang amat luas.
“Banyak gejala yang tampak pada klien skizofrenia namun tidak semua klien menunjukkan gejala yang sama” ungkapnya.
Diterangkan oleh ahmad Redho, Gejala-gejala yang muncul dari klien skizofrenia menyebabkannya mengalami penurunan kemampuan kerja, berinteraksi dan perawatan diri.
Menurut Depkes RI tahun 2009 jumlah klien yang mengalami gangguan jiwa di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 28 juta orang. Kejadian tersebut akan memberikan andil meningkatnya prevalensi gangguan jiwa dari tahun ke tahun diberbagai negara.
Di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau kunjungan pasien rawat inap dari 8 ruangan (UPIP, Kampar, Sebayang, Kuantan, Indragiri, Siak, Rokan, dan Napza) sebanyak 1.564 pasien di tahun 2015 dan 1.641 pasien di tahun 2016. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan prevalensi kejadian gangguan jiwa yang signifikan sebanyak 77 pasien.
Dari data sepuluh besar diagnosa penyakit rawat inap di RSJ Tampan Provinsi Riau tahun 2015-2016 menunjukkan bahwa diagnosa penyakit tertinggi adalah skizofrenia, dimana penyakit ini sering dialami pasien gangguan jiwa. “Berdasarkan data Rekam Medik, tahun 2016”. Ungkap Ahmad Redho.

Tim Penyuluh Dosen IKTA
Ditambahkan oleh Anggota I Tim Penyuluh Ns. Ika Permanasari, M. Kep, Menukil Nevid, Rathus & Greene, Penderita skizofrenia semakin lama semakin terlepas dari masyarakat, dimana gagal berfungsi sesuai peran yang diharapkan seperti sebagai pelajar, pekerja, pasangan, keluarga, dan komunitasnya yang menjadi kurang toleran terhadap perilaku penderita yang menyimpang.
Sementara Hasil penelitian Dongoran pada tahun 2014 menunjukan bahwa penderita skizofrenia terbanyak adalah pendidikan yang rendah (SMP, SD, Tidak Sekolah) sebanyak 66,56%.
“Berdasarkan hal tersebut maka tim Dosen dan mahasiswa melakukan pengabdian masyarakat terkait peningkatan kemampuan ansiety manajemen pada pasien skizofrenia dalam peningkatan pelayanan asuhan keperawatan di RSJ tampan Provinsi Riau.” Ujarnya.
Ika Permanasari ungkapkan, Kegiatan pengabdian masyarakat telah dilakukan di RSJ Tampan Provinsi Riau bekerjasama dengan bagian diklat RSJ Tampan Provinsi Riau.
Jumlah peserta yang hadir sebanyak 20 orang ditambah dengan 4 orang petugas rumah sakit. “Pasien dan keluraga serta petugas dikumpulkan dengan kesepakatan setelah izin dengan pihak RSJ Tampan Provinsi Riau.” Beber Ika Permanasari
Pada tahap perencanaan dan Persiapan, tim pelaksana berkoordinasi dengan pihak Diklat RSJ Tampan Provinsi Riau sebagai mitra mengenai peserta, waktu, tempat dan susunan acara kegiatan. “penggalian pengetahuan pasien dan petugas pendamping pasien, aktivitas, serta kebiasaan pasien sehari-hari serta sharing pengalaman tentang kehidupannya dalam menghadapi masalah yang didapatkan perlu dilakukan ucap Anggota II Tim Penyuluh Ns. Fitra Mayenti, M.Kep

Penyuluh Ns. Fitra Mayenti, M.Kep saat memberikan materi
Fitra Mayenti menjelaskan, selanjutnya dilakukanTahap peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, dimana pada tahap ini responden diberikan edukasi berupa penkes tentang Peningkatan Kemampuan Ansiety Manajemen Pada Pasien Skizofrenia Dalam Peningkatan Pelayanan Asuhan Keperawatan.
Tahap selanjutnya, Pengumpulan Data. Pada tahap ini, hasil kuesioner dianalisa untuk melihat perubahan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi penanganan masalah gangguan Ansiety Manajemen Pada Pasien Skizofrenia. Ujar Fitra Mayenti.
Lebih dalam, Fitra Meyenti mengatakan, Target luaran pengabdian masyarakat yang dilakukan yaitu penggunaan media,seperti media online maupun cetak, video kegiatan penkes, kepada peserta atau meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan edukasi. Metode pengetahuan dengan mengunnakan lembar observasi pengetahuan tentang masalah anxiety.
“Selama proses pelaksanaan kegiatan peserta sangat antusias untuk mengikuti kegiatan, untuk pengukuran pengetahuan dilakukan pada 20 orang peserta.” Tutup Ns. Fitra Mayenti, M.Kep.
Kegiatan Pengabdian masyarakat dengan penyuluhan peningkatan kemampuan ansiety manajemen pada pasien skizofrenia dalam peningkatan pelayanan asuhan keperawatan ini dibantu oleh 10 orang mahasiswa Prodi Keperawatan IKTA, yakni Septian, Seri Novita Dewi, Siti Khadijah, Rahmadani, Ramadani, Reza Cahyati, Riski Amalia, Riza Aziz, Rosmanita, Ika Azlina, dan Agung Wahyudi.









Komentar Via Facebook :